Jumat, 15 Agustus 2014

Pudarnya Bulan Madu PKB Rhoma Irama

Pudarnya Bulan Madu
PKB - Rhoma Irama

Oleh: Ahmad Barjie B

            Banyak berita beredar di media cetak, elektronik dan dunia maya menyatakan hubungan PKB - Rhoma Irama telah tamat. Bahkan sudah ada ancaman dari kubu Rhoma untuk menarik dukungan, jika dalam waktu dua minggu terhitung sejak 26 April tidak ada kejelasan dari PKB untuk mencalonkan Rhoma sebagai capres atau cawapres.
            Pendukung fanatik Rhoma dipimpin Ketua Tim Suksesnya Syehan Shahab menegaskan pula, pihaknya juga akan menarik dukungan jika PKB dalam menjalin koalisi dengan partai lain tidak menyertakan atau mendiskusikannya lebih dahulu dengan Rhoma.
            Memang sejak lama massa pendukung Rhoma dari para ulama, habaib, pencinta dangdut dan simpatisan lainnya mendirikan posko Rhoma Irama for Republik Indonesia (Riforri). Posko yang tersebar di 57 titik itu sangat bersemangat mendukung Rhoma menjadi capres. Mereka telah berkeringat berkampanye untuk PKB, dan elit PKB pun mengakui hal itu.
            Bila belakangan mereka kecewa, tentu cukup beralasan. Tak sekadar Rhoma pribadi, tetapi pendukungnya. Bagi Rhoma hanya dicalonkan, dicapreskan, bukan menawarkan dan mencalonkan diri.

Sulit Dicapai
            Sejak awal patut diduga digaetnya Raja Dangdut Rhoma Irama untuk memperkuat PKB, lebih sebagai vote getter ketimbang sebagai capres atau cawapres. Pasalnya target perolehan suara PKB untuk bisa mencalonkan Rhoma terlalu tinggi, di atas 20 persen. 
            Target ini memang sesuai dengan peraturan pemilu presiden bahwa partai dan/atau koalisi partai baru bisa mengajukan calonnya jika beroleh suara Pemilu Legislatif tinggi. Tetapi jelas target ini terlalu utopis bagi PKB dan Rhoma sendiri, sebab partai besar dan tua seperti Golkar dan PDIP saja belum sanggup mencapainya.
            Rasionalnya PKB akan tetap mengusung Rhoma asalkan peningkatan suaranya signifikan, dengan cara berkoalisi partai lain, khususnya partai Islam dan berbasis massa Islam.
            Dengan tingginya target yang dipasang, mudah sekali bagi PKB untuk berkelit. Karena total suara yang diperoleh belum sesuai target, meski kehadiran Rhoma berhasil meningkatan suara secara signifikan,  pencapresan Rhoma urung.
            Bagi PKB, jadi atau tidak mencapreskan Rhoma tetap menguntungkan, setidaknya menjelang dan ketika Pileg. PKB sudah beroleh hadiah besar, yaitu membengkaknya suara Pileg, bahkan di atas PPP dan PKS yang selama ini lebih unggul.
            Kegamangan PKB terlihat pula ketika partai juga menggadang-gadang nama Mahfud MD sebagai capres dan belakangan juga melirik Jusuf Kalla. Fenomena ini satu sisi menunjukkan di internal PKB tidak bulat suara mencalonkan Rhoma, dan di sisi lain mengindikasikan PKB memang ingin beroleh suara besar dengan berbagai cara. Ini sangat berbeda dengan PDIP, Golkar dan Gerindra yang dari awal konsisten hanya mengusung satu nama; Jokowi, ARB dan Prabowo.
            Sekiranya dengan mengusung ketiga tokoh sebagai capres, suara PKB memenuhi syarat mengajukan sendiri capresnya, itu pun tidak mudah. Adanya tiga tokoh menjadi sulit mengukur, peningkatan suara itu karena peran siapa. Siapa yang harus maju dan siapa yang mengalah.
            PKB juga tampak enggan untuk secara tulus mengakui keberhasilan meraup suara dalam Pileg kali ini sebagai Rhoma Effect, sebagaimana diyakini banyak orang. Elit PKB menyatakan, kenaikan suara itu disebabkan banyak faktor. Di antaranya kembalinya warga Nahdliyin kepada PKB sebagai partai yang diklaim anak kandung NU.
            Partai-partai yang lahir dan bagian dari NU seperti Partai Kebangkitan Umat (PKU) yang didirikan KH Yusuf Hasyim, Partai Nahdlatul Umat (PNU/PKNU) yang diketuai KH Syukron Makmun dan Partai Solidaritas Uni Indonesia (Suni) yang didirikan KH Abu Hasan, ketiganya tokoh NU, kini tidak ada lagi. Jadi ke PKB-lah suara Nahdliyin tersalur. Teori ini tentu tak sepenuhnya benar, sebab PPP pun hakikatnya merupakan partainya orang NU, bahkan deklarator PPP adalah Dr KH Ideham Chalid, Ketua Partai NU dan PB-NU hampir 30 tahun.  
            Hadirnya owner Lion Air Group Rusdi Kirana dipercaya juga ikut memberikan kontribusi bagi membesarnya PKB. Tambahan pula, kepemimpinan Muhaimin Iskandar dalam beberapa tahun terakhir dianggap lebih solid dan sunyi dari konflik, juga memberi andil meningkatnya suara PKB.
            Multifaktor yang oleh elit PKB dianggap sebagai variabel keberhasilan, sulit bagi Rhoma dan pendukungnya memaksakan diri. Menarik dukungan adalah konsekuensi logis politik yang harus diterima oleh kubu Rhoma maupun PKB.  
           
Tetap Silaturahim
            PKB kurang serius mencalonkan Rhoma, ini juga tampak dari kurang gesitnya elit PKB mendatangi partai lain untuk menjalin koalisi, khususnya partai Islam dan berbasis massa Islam.
            Padahal PKB dan partai-partai Islam sudah berulang kali ditantang oleh media dan pengamat untuk berkoalisi dan mengusung calon sendiri. Di poros inilah Rhoma lebih mungkin dipasang bersama tokoh lain, ketimbang parpol lain.
            Bahkan Fachry Hamzah dari PKS menyatakan, kalau sebelumnya Presiden RI sudah ada dari kalangan pejuang, tentara, ulama, ahli teknologi, pemimpin partai dsb, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kenapa tidak dicoba mengusung presiden dari seniman, dalam hal ini Rhoma. Apalagi dalam diri Rhoma juga ada bobot ulama sekaligus jiwa nasionalis kuat yang tercrmin dari lagu-lagu dan filmnya selama ini.
            PKB dengan berbagai alasan, bahkan tampak lebih berselera berkoalisi dengan partai lain yang belum tentu sejalan dengan kehendak pemilihnya. PKB belum mau tampil sebagai pemimpin koalisi. tapi lebih sebagai peserta koalisi saja.
            Kalau sudah begitu maka pintu masuk Rhoma sebagai capres/cawapres semakin tertutup.  Wajar jika kemudian ada kekecewaan, khususnya dari massa fanatik Rhoma yang tempo hari menjatuhkan pilihannya pada PKB.
            Mendukung atau menarik dukungan adalah risiko logis dunia politik yang memang tidak mengenal persahabatan abadi. Tetapi di atas segalanya, yang penting silaturahim yang selama ini sudah terbangun hendaknya tetap terpelihara baik. Silaturahim tidak boleh rusak oleh kalkulasi politik sesaat. 
           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar