Jumat, 15 Agustus 2014

Umat Islam dan Potensi Perpecahan

Umat Islam dan Potensi Perpecahan

Oleh: Ahmad Barjie B

            Manusia diciptakan Allah dari berbangai suku bangsa, adat istiadat, dan agama. Semua dimaksudkan agar manusia saling berinteraksi dan berkomunikasi. Manusia paling baik dan mulia terletak pada taqwa dan manfaatnya bagi sesama.
             Adanya perbedaan dimaksudkan agar satu sama lain saling bersatu. Melengkapi  dengan menyumbangkan kelebihan dan menutupi kekurangan. Ibarat sebuah taman, jika bunga yang tumbuh dan berkembng di dalamnya beraneka warna, tentu menambah indahnya taman tersebut.
            Kenyataan yang terjadi di tengah masyarakat dan bangsa, perbedaan dijadikan alasan untuk berpecah belah. Realpolitik kesejarahan sejak dulu mencatat, betapa seringnya terjadi perpecahan, konflik dan peperangan disebabkan perbedaan atas nama agama, ideologi, ras dan kepentingan politik.
            Lebih mengherankan lagi, sesama umat Islam ternyata juga senang berpecah belah, tanpa alasan mendasar yang mengharuskannya berpisah. Ketika Rasulullah saw wafat, hampir saja terjadi perpecahan antara golongan Muhajirin dan Anshar gara-gara memperebutkan posisi khalifah. Untunglah Abubakar dan Umar tampil dan mampu menyatukan umat Islam kala itu.
            Ternyata, perpecahan hanya mampu ditunda dalam waktu tidak lama. Di masa akhir kekhalifahan Utsman dan Ali, dilanjutkan dengan era Bani Umaiyah dan Abbasiyah, perpecahan kembali marak, terjadi perang saudara yang mengorbankan puluhan bahkan ratusan ribu nyawa kaum muslimin.

Potret Indonesia
            Perpecahan, tidak hanya mewarnai sejarah perkembangan Islam dunia, tapi juga terjadi di negeri kita. Di masa kolonialisme bangsa kita gampang diadudomba, akhirnya lemah dan dikuasai penjajah. Pascamerdeka, menjelang dan sesudah Pemilu 1955, Partai Masyumi berpecah dengan NU. NU yang semula menyalurkan aspirasi politiknya lewat Masyumi, akhirnya kecewa dan terpaksa berdiri sendiri sebagai partai politik, karena banyak aspirasinya tidak diakomodasi Masyumi. NU merasa lebih leluasa berjuang jika memiliki partai sendiri.
            Di antara masalah yang memicu perpisahan kedua partai adalah: Pertama, Masyumi ingin mendirikan Negara Indonesia yang ideal berdasarkan Hukum Islam. Sementara NU lebih setuju dengan negara yang religius nasionalis dengan mengakomodasi budaya nasional yang tidak bertentangan dengan ajaran Islam.
            Kedua, masalah Mutual Security Act (MSA) terkait politik luar negeri. Masyumi ingin bergabung dengan Inggris dan Amerika dalam MSA meskipun dengan konsekuensi pertahanan dan keamanan Indonesia berada dalam jaminan dan pengawasan Inggris dan Amerika. Keuntungannya, Indonesia yang masih lemah akan beroleh bantuan ekonomi dari Barat. Sementara PKI yang juga beroleh suara signifkan ingin berkiblat kepada Negara Komunis RRT dan Uni Soviet.
            NU menolak keduanya, karena menurut NU Indonesia jangan berkiblat ke Barat atau ke Timur, la gharbiyah wa la syarqiyah. Indonesia harus mandiri, dengan berpolitik bebas aktif.  Kalau mengikuti Barat maka Indonesia yang masih lemah akan terus berada dalam dominasi dan pengaruh Barat, yang artinya kehilangan kedaulatannya sebagai negara merdeka. Dan kalau berkiblat ke Timur Indonesia akan menjadi Komunis.
            Tidak ada kata sepakat, Masyumi dan NU kemudian berpisah secara baik-baik. Pada akhirnya pemerintah mengikuti arah politik NU dengan kebijakan politik luar negeri bebas aktif dan Non Blok. Konferensi Asia Afrika 1955 dan Konferensi Islam Asia Afrika 1965 yang digagas Bung Karno, PNI dan NU menjadi cikal-bakal pembentukan negara-negara Non-Blok dan Indonesia menjadi penggeraknya.
            Di tahun 1980-an PPP yang merupakan fusi sejumlah parpol Islam (Parmusi, NU, PSII dan Perti) juga kerap dilandai konflik internal. Di antaranya perseteruan Sudarji vs Jaelani Naro yang dulu sering didamaikan pemerintah.
            Kalau pemicu konflik Masyumi dengan NU terkait masalah ideologi, pada konflik lainnya lebih karena persoalan kubu-kubuan antara Parmusi dengan NU serta gaya kepemimpinan elit partai yang dianggap otoriter.
            Pascapileg 9 April lalu konflik juga sempat merebak di tubuh PPP. Untunglah parapihak yang berbeda pendapat segera islah dan kini PPP kembali solid. Kita harapkan soliditas ini tidak semu dan temporal, tetapi permanen untuk seterusnya.
            Kalau umat Islam dan parpol Islam tidak kunjung bersatu, maka selain melemahkan, juga membuat citranya negatif dalam pandangan eksternal. Kekuatan umat Islam terletak pada kesatuan dan persatuan, serta konsistensi menjalankan ajaran agama.    

Sinyalemen Rasulullah
            Pentingnya menjaga persatuan dan menghindari perpecahan selain ditekankan dalam banyak ayat Alquran, juga diperingatkan oleh Rasulullah saw. Drs H Ahmad Husaini HA M.Fil, dalam khutbah di Masjid At-Taqwa Banjarmasin (11/4/2014) menceritakan, suatu hari Rasulullah salat sangat panjang. Ruku’ dan sujud beliau terasa lama, sehingga banyak sahabat mengira beliau salat sambil menerima wahyu.
            Setelah sahabat bertanya ternyata ketika itu Rasulullah berdoa yang sangat penting, untuk tiga hal. Pertama, agar umatnya diselamatkan dari bencana alam dan kelaparan yang memusnahkan. Kedua, agar umatnya diselamatkan dari kekuasaan asing. Dan ketiga agar umat Islam dihindarkan dari perpecahan.
            Ternyata dua doa yang pertama dikabulkan oleh Allah swt, sebab keduanya wilayah takdir, dan Allah tidak akan menakdirkan umat Islam hancur semuanya oleh bencana alam dan serangan musuh. Kalau pun ada yang mengalaminya hanya terbatas dan sementara, karena kerusakan alam, dosa maksiat dan adudomba. Seperti bangsa Indonesia sempat dijajah oleh Belanda ratusan tahun, karena termakan adu domba dan tak mau bersatu. Tetapi ketika sadar dan bersatu berjuang, bangsa kita pun merdeka.
            Doa ketiga ditolak, karena perpecahan disebabkan kehendak elit dan umat Islam sendiri, bukan takdir Allah. Perpecahan terjadi dipicu hawa nafsu, ambisi, kecurigaan dan emosi yang tidak stabil. Tidak mau mengalah dan ingin menang sendiri.
            Kita semua perlu waspada. Perpecahan sering terjadi karena para pihak merasa benar dengan sikap dan pendiriannya. Tetapi apa pun alasannya perpecahan harus dihindari. Perbedaan harus diselesaikan dengan musyawarah, kepala dingin dan akal sehat demi kepentingan umat.  Umat merindukan persatuan, bukan perpecahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar